Ananda Sukarlan dan Pengalaman Baru Saya

Ananda Sukarlan menurut saya adalah seorang seniman kreatif yang membanggakan, rasa cintanya terhadap tanah air yang ia salurkan lewat nada nada indah sungguh mengagumkan, namanya tidak hanya dikenal dalam negeri tapi ke seluruh penjuru dunia.

Seni adalah sebuah karya kreatif manusia yang mengandung keindahan dan mampu membangkitkan perasaan bahagia, setidaknya itu menurut saya.

Dari sekian banyak jenis jenis seni yang ada, salah satu yang paling saya sukai adalah seni musik dan salah duanya adalah seni peran. Untuk urusan genre saya menyukai dan menikmati semua jenis musik namun musik klasik dan musik musik cadas berada di urutan pertama dan kedua.

Mungkin anda bingung dan bertanya tanya “Lho itu kan dua genre yang bertolak belakang ?”. Well buat saya musik klasik itu menciptakan sebuah atmosfer kontemplatif yang menenangkan sehingga sangat pas untuk suasana yang membutuhkan konsentrasi, sangat mendukung ketika saya sedang mencari inspirasi atau ketika sedang bersantai.

Nah untuk musik musik cadas biasanya saya putar ketika sedang dikejar oleh deadline. Tempo dan irama musiknya yang nge-beat serasa mendorong andrenalin dan syaraf syaraf dalam tubuh untuk menyuplai darah dan oksigen mengalir dengan lancar ke otak.

Bahkan terkadang jari jari ini menari nari diatas papan keyboard komputer sesuai dengan irama musiknya sambil kepala mengangguk ngangguk. Nah biasanya moment moment seperti ini sering ditemani oleh secangkir kopi hitam buatan istri. Beugh… itu rasanya langsung marpuratak kepala ini.

Dalam bahasa batak Marpuratak itu adalah sebutan untuk bunyi yang terdengar dari ranting-ranting kayu kering ketika terbakar dilalap api.

Makin besar nyala apinya makin sering dan kencang terdengar suara “kretak..kretek.. kretak” tersebut. Nah seperti itulah kira kira kata yang tepat untuk mendeskripsikan neuron neuron dalam kepala ini, rasanya ada ledakan ledakan yang membuat kata demi kata mengalir begitu saja dalam suasana yang bahagia.

Kali ini dalam sebuah acara konser musik awal tahun bertajuk Millenial Marzukiana yang digelar oleh Ananda Sukarlan Orchestra dan kaya.id (dibaca kaya ide), saya menemukan sebuah suguhan yang menurut saya unik, seru dan menarik
Saya belum menemukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan ini, rasanya emosi dan imajinasi diaduk aduk oleh Ananda Sukarlan. Boleh dibilang tidak hanya emosi tapi seluruh panca indera kita seolah “larut” dipermainkan olehnya

Buat yang penasaran, berikut ini saya coba kasih sedikit deskripsi yang setidaknya agak mendekati dengan kenyataan yang saya alami saat itu.

Dalam benak saya musik klasik itu yah seperti yang sering dimainkan oleh mas Addie MC bersama group Orchestranya itu yah tidak jauh jauh seperti yang sering kita saksikan dalam film film atau di laman berbagi video seperti youtube. Namun dugaan saya ternyata melenceng sangat jauh sekali.

Tempat duduk saya berada di balkon dan di urutan paling depan, sehingga seluruh pemain terlihat dengan jelas. Camera yang saya bawa dari rumah sengaja tidak saya keluarkan, lalu saya mengambil posisi santai, kepala nempel ke kursi yang empuk dan tangan dalam posisi santai juga di kiri dan kanan sandaran tangan kursinya yang nyaman.

Lalu keluarlah Ananda yang tanpa Ba-Bi-Bu langsung memainkan “tongkat sakti” nya dan serta merta kita diombang ambingkan, naik… turun… naik… lalu dihempaskan seketika. Indra pendengaran saya disuguhi distorsi disana sini, dan berhubung tidak ada pengumuman apa – apa jadi saya tidak tau dan hanya bertanya tanya dalam hati “kita disuguhi apa nih sama Ananda ?”.

Belakangan saya baru tahu kalau itu adalah sebuah karya baru sang komponis yang berjudul Tsunami, ia terinspirasi dari musibah tsunami yang melanda selat sunda baru baru ini. Oalah… Pantesan

Menit menit berikutnya susah untuk dilukiskan dengan kata – kata, bagaimana sebuah cerita fiksi, dan musik klasik bersatu dan kita “tersedot” ke perjalanan waktu dalam sebuah komposisi yang indah dan menyatu.

Lalu sajian berikut ini membuat saya susah move-on selama berhari hari. Kita dibawa ke Sumatera Barat ke pantai Air Manis, menghirup aroma laut ditemani angin sepoi sepoi. Kali ini narasi dan musik “mengobok obok perasaan ini”

Selengkapnya bisa anda baca artikel saya : Malin Kundang – Legenda Klasik Dalam Balutan Musik nan Apik

Dan yang tak kalah menariknya, kita dibawa hanyut dalam jiwa nasionalisme Ismail Marzuki, seorang tokoh pejuang dan komposer jaman old yang karya karyanya menggugah rasa kebangsaan dan cinta tanah air yang begitu dalam. Rasa itu pula lah yang ingin ditularkan kepada kita dan generasi millenial ini

Semua itu disuguhkan oleh Ananda Sukarlan Orkestra bersama sederet musisi musisi muda dengan segudang prestasi yang masih berusia dibawah 30 tahun.

Sungguh sebuah pengalaman menikmati suguhan karya seni tingkat tinggi, yang tidak hanya membuat otak ini Marpuratak tapi juga “tersedot” kedalam sebuah dimensi lain yang baru bagi saya.

Well, akhir kata saya ingin mengucapkan terima kasih banyak buat mas Ananda Sukarlan atas pengalaman berharga ini, Sukses selalu buat musik klasik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *