From Batak With Love

“Bang, kau bisa pulang gak ?” kata adikku suatu hari. Kebetulan dalam waktu dekat papa akan merayakan ultah, dan kita ingin bikin acara sederhana di rumah, maklum saya jarang jarang pulang kampung.

Setelah googling sana sini akhirnya saya dan istri memutuskan untuk pulang via bandara Silangit, selain karena harganya lebih terjangkau juga pengen nyobain bandara baru yang banyak diperbincangkan orang orang di jagad maya itu.

Hari keberangkatan pun tiba, saya dan istri hanya butuh waktu 10 menit dari rumah ke bandara Halim Perdana Kusuma. Sesampainya di ruang tunggu bandara nampak beberapa muka muka khas orang Tapanuli atau biasa dikenal sebagai orang batak, jangan tanya bagaimana cara membedakannya.

Kalau sudah terbiasa bergaul dengan banyak etnis hanya dengan melihat muka saja kita bisa membedakan mana orang Batak dan mana yang non-batak. Apalagi kalau ditambah mendengarkan ketika mereka berbicara, semakin mudah melihat perbedaannya. Walaupun mereka berbicara dengan bahasa Indonesia namun logat bataknya akan tetap kerasa.

Jangan tanya juga apa yang akan terjadi kalau lebih dari dua orang batak sedang ngobrol, suasananya dipastikan akan ramai, kalau tidak mirip orang yang sedang berantem yah pasti mirip seperti suasana orang sekampung sedang ngeriung karena orang batak itu ekspresif dan suaranya menggelegar.

Melihat muka muka batak dihadapan saya apalagi rombongan ibu ibu berkebaya disebelah sana lengkap dengan sanggul di kepala, bisa dipastikan mereka ini akan menjadi penumpang pesawat yang sama dengan saya.

Diam diam saya menguping isi percakapan mereka, tidak jauh di depan saya duduk seorang ibu bersama anak gadisnya dan dihadapannya terlihat seorang bapak separuh baya sedang bercakap cakap dengannya

Percakapan ini dalam bahasa daerah Batak Toba, sengaja saya terjemahkan supaya pembaca bisa mengerti

“Lagi mikirin apa pak ? dari tadi kok kelihatan cemas gitu ?” ujar sang ibu memulai pembicaraan
“Ini.. lagi mikirin nanti ada yang jemput atau tidak. Kampung saya jauh harus jalan kaki setengah hari lagi dari pinggir jalan raya” kata si bapak sambil sesekali melihat barang bawaannya

Lalu tiba tiba si ibu tertawa terbahak bahak, sampai sampai setengah isi ruang tunggu menoleh ke arahnya
“Pak, pasti bapak sudah lama gak pulang yah ?” Kata si ibu
“Iya, sekitar 10 tahun lah tidak pulang kampung, ini juga karena ada acara adat makanya pulang” sahut si bapak
“Sekarang sudah tidak seperti jaman dulu pak, hampir semua kampung di daerah kita sana sudah bisa dilalui kendaraan sampai depan rumah” Kata si ibu sambil senyum senyum

Lalu si ibu menjelaskan panjang lebar mengenai program dana desa dari pemerintah yang dimanfaatkan untuk membangun akses jalan hingga ke kampung kampung dibawah bukit sana, jadi hari gini sebagian besar kampung kampung yang dulu hanya bisa di akses dengan jalan kaki, sekarang mobil sudah bisa masuk sampai depan rumah.

“Kalau ada yang kampungnya tidak berubah maka cari kepala desanya tanya dikemanakan duit dari Jokowi itu ?” ujarnya berapi api.

Si bapak kemudian manggut manggut dan saya hanya bisa senyum sendiri mendengar percakapan mereka yang super heboh “cocok nih si ibu jadi juru kampanye” ujarku dalam hati.

Seolah tak mau kalah di ujung sana rombongan ibu ibu berkebaya tampaknya sedang asyik ngerumpi juga, topik bahasannya sepertinya masih seputar pembangunan di kampung halaman yang semakin gencar akhir akhir ini.

Obrolan mereka sontak terhenti ketika terdengar pengumuman dari mikrofon bandara yang menyuruh penumpang tujuan Silangit untuk masuk segera ke dalam pesawat. Saya dan istri berjalan di urutan belakang sambil tidak lupa selfie selfie dulu.

Keinginan saya untuk tidur pulas selama penerbangan ini pupus sudah, berhubung saya belum tidur dari tadi malam saya berencana untuk ‘balas dendam’ di dalam pesawat, namun semuanya sirna. Meskipun mata ini terpejam namun suara suara di dalam pesawat cukup mengganggu, yah sudah ketebak berhubung mayoritas isi pesawat ini orang batak jadi volume suaranya tidak bisa di setel agak kecil.

Udah dari sononya suaranya menggelegar dan bernada tinggi, yah mirip mirip Judika lah, ketawanya saja nadanya tetap tinggi apalagi kalau sedang bersemangat ngerumpi, bayangkanlah itu. Hahaha

Topik percakapan mereka masih seputar hal hal yang tadi, pembangunan infrastruktur lah.. bandara lah.. jalan desa lah.. dan hal hal lain yang menyangkut hasil kerja Jokowi di daerah Sumatra Utara, tidak lupa topik viral seorang ibu yang menjajakan dagangan sambil bernyanyi mendukung Jokowi jadi pembahasan mereka juga.

Biasanya obrolan politik seperti ini kalau dikampung kami sana lumrah kita jumpai di lapo, bahkan sesekali diiringi perdebatan sengit mirip orang yang sedang bertengkar, dan pada umumnya para laki laki yang lebih sering membahas politik di lapo. Kali ini obrolan politik pindah ke dalam pesawat dan pelakunya pun para ibu ibu yang tentu saja frekuensi suaranya lebih nyaring.

Saya hanya bisa pasrah sambil terus memejamkan mata, berharap mereka nanti bosan lalu berhenti ngobrol, jadi saya bisa terlelap walau sejenak. Beberapa bapak bapak dalam pesawat nampaknya juga melakukan hal yang sama.

Ketika awak kabin mengumumkan bahwa sesaat lagi kita akan tiba di bandara Silangit, obrolan politik para ibu ibu ini ternyata belum selesai juga, “gak capek apa ibu ibu ini ngobrol berjam jam dari tadi ?” gumamku dalam hati.

Ketika roda roda pesawat yang kami tumpangi berhasil mendarat mulus di runway bandara Silangit yang basah diguyur hujan, terdengar para ibu ibu kompak berucap “Hidup Jokowi..” lalu tertawa cekikikan. Sebagian lagi berkata “Terimakasih Tuhan, Terimakasih Jokowi” sambil tetap diakhiri suara ketawa khas ibu ibu.

Bandara Silangit sehabis hujan


Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bandara Silangit, disana sini terlihat proses pembangunan sedang berlangsung dan bandara masih terus berbenah, saya melihat alat berat yang bekerja tidak jauh dari gedung utama bandara, dan ruang kedatangan bandara masih terbuat dari tenda sementara.

Dari hasil “menguping” obrolan ibu ibu tadi saya jadi tahu kalau ternyata runway bandara juga akan diperpanjang lagi.

Masih dari hasil kegiatan “nguping” tadi saya mendengar bahwa mayoritas warga di sini ternyata menyukai pak Jokowi dan berharap beliau bisa menjadi presiden sekali lagi.

Dari kejauhan saya melihat papa melambaikan tangan menjemput kedatangan kami, akhirnya saya berpisah dengan para penumpang pesawat yang super heboh ini. Dari keterangan papa saya jadi tahu kalau ternyata sedang ada kegiatan kerohanian salah satu organisasi gereja suku di daerah Tapanuli Utara.

Rombongan ibu ibu tadi rupanya sedang menuju kesana, berarti kemungkinan besar mereka adalah rombongan paduan suara, oalah.. pantesan aja suaranya nada nada tinggi semua saat ngerumpi tadi, jangan – jangan suara sopran semua itu. Hahahaha

Mungkin kalimat “From Batak With Love” cocok untuk menggambarkan kecintaan orang orang batak ini terhadap presidennya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *